Publikasi Hasil Analisis Data Pengukuran Stunting Tingkat Kabupaten Buton Tengah

Publikasi Hasil Analisis Data Pengukuran Stunting

Tingkat Kabupaten Buton Tengah

 

 

Perkembangan Sebaran Prevalensi Stunting Kabupaten Buton Tengah

Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak balita akibat kekurangan gizi kronik dan infeksi berulang yang ditandai dengan panjang badan atau tinggi badan berada di bawah standar WHO (PP No.72 Tahun 2021). Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi, kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun.

Wilayah Kabupaten Buton Tengah terdiri dari 7 Kecamatan dengan jumlah Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) sebanyak 14 Puskesmas terdiri dari 7 Puskesmas Induk dan 7 puskesmas Satelit. Situasi sebaran prevalensi stunting Kabupaten Buton Tengah dalam kurun waktu Tiga tahun terakhir yaitu Tahun 2021, 2022 dan Tahun 2023 dapat dilihat pada grafik berikut:

Berdasarkan Grafik di atas, menunjukkan bahwa Prevalensi stunting di Kabupaten Buton Tengah  mengalami Penurunan selama Tiga tahun terakhir. Pada tahun 2021 Prevalensi stunting sebesar 23,4 % yang kemudian mengalami Penurunan sebesar 1,1 % pada tahun 2022 menjadi 22,3%, pada tahun 2023 terjadi penurunan yang signifikan yaitu sebesar 6,6 % menjadi 15,7%.

Penurunan Prevalensi Stunting di Kabupaten Buton Tengah dipengaruhi oleh Kerja sama Lintas Sektor yang semakin membaik. Keterlibatan dan kinerja Lintas Sektor terkait dalam percepatan penurunan Stunting terlihat dengan pelaksanaan Kampanye atau penyuluhan tentang stunting baik di tingkat kabupaten, kecamatan maupun tingkat Desa/Kelurahan yang dapat membangun kesadaran masyarakat tentang penanganan stunting. Keseriusan Pemerintah Daerah juga ditunjukan dengan Keterlibatan berbagai tim dalam Percepatan Penurunan Stunting seperti TPPS mulai dari Tingkat Kabupaten yang di SK kan oleh Kepala Daerah, Tingkat Kecamatan hingga ke tingkat Desa. Penurunan Angka Stunting ini sudah mencapai Target Nasional Kementrian Kesehatan yaitu 16% pada Tahun 2023, dan Buton Tengah suda berada dibawa angka tersebut yaitu 15,7%.

Sumber: Data Diolah dari e-PPGBM, Tahun 2021,2022 dan 2023 data Bulan Agustus

Berdasarkan Grafik di atas, menunjukkan bahwa Tren Prevalensi stunting di Kabupaten Buton Tengah menurut Kecamatan mengalami Fluktuatif selama tiga tahun terakhir. Tren angka Stunting per kecamatan memperlihatkan bahwa kecamatan yang paling tinggi penurunan prevalensi stuntingnya terjadi pada kecamatan mawasangka Timur sejak tahun 2021 yaitu sebesar 12,8% pada tahun 2022 dan 2,3% pada Tahun 2023. Penurunan yang Konsisten juga terjadi di Kecamatan Mawasangka Tengah yang mengalami penurunan dari tahun ke tahun meskipun tidak secara signifikan yaitu 34,2% pada tahun 2021 turun menjadi 33,6% pada tahun 2022 dan menjadi 20, 1% pada tahun 2023%, terjadi penurunan sebesar 13,5%.

Sebaran Prevalensi Stunting Dari Grafik diatas, dari tahun 2022 ke Tahun 2023 terjadi penurunan pada enam kecamatan yaitu, Kecamatan Gu, Kecamatan Mawasangka, Mawasangka Tengah, Kecamatan Mawasangka Timur, Kecamatan Talaga Raya dan Kecamatan Lakudo. Sedangkan satu Kecamatan lainnya yaitu Kecamatan Sangia Wambulu mengalami Peningkatan Prevalensi Stunting sebesar 0,1%. Terdapat dua Kecamatan yang angka Stuntingnya dibawah standar nasional 16% yaitu Kecamatan Gu (8,3%) dan Kecamatan Talaga Raya (9,5%).

Kegiatan intervensi yang telah dilakukan untuk menurunkan angka stunting adalah dengan melakukan Konvergensi Stunting yang melibatkan seluruh perangkat daerah terkait mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, desa/kelurahan sampai ke tingkat RT dan RW. Selain itu adanya kegiatan berupa intervensi spesifik dan Sensitif juga banyak dilakukan. Beberapa Kegiatan Intervensi Spesifik yang dialkukan Oleh Dinas Kesehatan dan Puskesmas mulai dari memaksimalkan Program-program Kemantrian kesehatan seperti peningkatan Status Gizi Remaja Putri dengan pemberian Tablet Tambah Darah, Screening Anemia Remaja Putri dan Pelayanan Posyandu Remaja, Pemeriksaan Kesehatan bagi calon pengantin, Pemberian Tablet Tambah Darah bagi Calon Pengantin, Pelayanan ANC Lengkap, Pemberian Makanan Tambahan pada Ibu Hamil KEK, Pemberian Tablet Tambah Darah Ibu Hamil 90 Tablet Selama Kehamilan, Pemantauan Tumbuh Kembang Balita, Pelayanan Imunisasi Dasar Lengkap, Pemberian Makanan Tambahan pada balita gizi kurang dengan PMT Bahan Lokal, Pemantauan Tumbuh Kembang Balita di Posyandu, Tatalaksana Gizi Buruk dan Pemberian Taburia pada Balita BB kurang.

Selain memaksimalkan Kegiatan Rutin yang telah ada, Dinas Kesehatan juga melakukan upaya-upaya dalam peningkatan kapasitas petugas seperti Orientasi Komunikasi Antar Pribadi (KAP Stunting), Sosilisasi Pentingnya Minum Tablet Tambah Darah dan Pencatatan Pernikahan Bgai Calon Pengantin. Workshop Pemantauan Tumbuh Kembang Bagi Kader, PAUD/TK/RA, Workshop Kader Posyandu dalam Penyelenggaraan Penimbangan dan Kunjungan rumah. Pembentukan KP-ASI (Kelompok Pendukungn Air Susu Ibu,  Selain itu dilakukan pula Sosialisasi Demo Masak MP-ASI Bahan Lokal, Aksi Bergizi di Sekolah dan Gerakan Cegah Stunting. Selain Dalam memaksimalkan kegiatan didukung pula dengan pengadaan alat Antropometri sebanyak 64 Set Antropometri yang di distribusi ke posyandu, sehingga Tahun 2023 semua Posyandu telah memiliki Alat Antropometri standar. Selain itu pengadaan USG 2D sebanyak 8 unit, yang didistribusi ke Puskesmas, sehingga semua Puskesmas  telah memiliki USG 2D. Sedangkan kegiatan intervensi sensitive yang telah dilakukan seperti memastikan akses air bersih dan sanitasi yang baik, edukasi/konseling pada calon pengantin, menyediakan akses ke layanan kesehatan dan keluarga berencana, memberikan pendidikan pengasuhan pada orangtua, serta memberikan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi serta gizi pada remaja. Pengadan Pekarangan Pangan Lestari oleh Dinas Pangan, Pembentukan TPK oleh dinas PPKB, DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting), Bapak Bunda Asuh Kabupaten Buton Tengah, dan masih banyak pula kegiatan lainnya.

 

Gambaran Kondisi Stunting Kabupaten Buton Tengah

  1. Faktor Determinan Yang Memerlukan Perhatian

Faktor yang masih menjadi kendala dalam penurunan stunting dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Kecamatan

faktor_determinan_jkn

faktor_determinan_air_bersih

faktor_determinan_kecacingan

faktor_determinan_jamban_sehat

faktor_determinan_kebiasaan_merokok

faktor_determinan_riwayat_ibu_hamil

faktor_determinan_penyakit_penyerta

GU

65

11

1

14

35

31

0

LAKUDO

208

2

15

20

194

69

1

MAWASANGKA

292

0

0

42

308

75

1

MAWASANGKA TENGAH

98

1

1

2

145

57

6

MAWASANGKA TIMUR

47

0

11

5

42

19

9

SANGIA WAMBULU

50

0

1

0

59

12

1

TALAGA RAYA

27

0

0

0

3

0

0

KAB. BUTON TENGAH

787

14

29

83

786

263

18

 

             Dari tabel diatas menunjukan bahwa faktor determinan yang masih menjadi kendala penurunan stunting di Kabupaten Buton Tengah adalah masih tingginya Kebiasaan Merokok, dimana terdapat 786 Balita stunting yang anggota keluarganya merokok di dalam rumah, dengan kasus tertinggi terdapat di Kecamatan Mawasangka dan terendah berada di Kecamatan Talaga Raya. Selain Kebiasaan Merokok, rendahnya kepemilikan JKN juga menjadi kendala dalam percepatan penurunan Stunting, dimana terdapat 787 Balita Stunting yang belum memiliki JKN, dengan kepemilikan JKN terrendah berada di Kecamatan Mawasangka. Riwayat Ibu Hamil KEK juga merupakan faktor yang memerlukan perhatian, dimana terdapat 263 Balita Stunting dengan Riwayat Ibu Hamil KEK, dan banyak terdapat pada kecamatan Mawasangka 75 Ibu dan Lakudo 69 Ibu. Faktor determinan lainnya yaitu Kepemilikan Jamban Sehat, dimana terdapat 83 Balita Stunting yang belum memiliki Jamban Sehat, Balita yang belum memiliki Jamban sehat terbanyak di Kecamatan Mawasangka 42 orang, Lakudo sebanyak 20 Balita. Faktor determinan lainnya yaitu Riwayat Kecacingan sebanyak 29 Balita, terbanyak berada di Kecamatan Lakuda yaitu 15 balita, dan Mawasangka Timur 11 Balita. Terdapat 18 Balita Stunting yang memiliki Riwayat Penyakit Penyerta diantaranya Asma dan Demam.

 

  1. Perilaku Kunci RT 1000 HPK yang Masih Bermasalah

Terdapat beberapa perilaku kunci yang membutuhkan perhatian yaitu Praktek Pemberian ASI eksklusif dibawah 6 Bulan (60,5%), Hal ini disebabkan oleh Kurangnya Dukungan Anggota Keluarga terutama Suami dan Pengaruh dari Mertua dan Orang tua serta pemahaman manajemen Laktasi yang kurang. Riwayat KEK pada Ibu Hamil ( 26,8%) hal ini disebabkan oleh masih tingginya pernikahan usia muda dan Rendahnya Pelaporan pernikahan 3 bulan sebelum nikah. Selain itu masih perlunya pemantauan pemberian dan konsumsi Tablet Tambah Darah bagi remaja putri  di Sekolah.

 

  1. Kelompok Sasaran Berisiko

Kelompok beresiko yang perlu mendapatkan perhatian antara lain adalah calon pengantin, Ibu hamil, Ibu menyusui, bayi, dan baduta.  Remaja puteri perlu disiapkan untuk menjadi calon pengantin pada usia idealnya,  Ibu Hamil diberikan Pendampingan Edukasi dan pelayanan ibu hamil, Ibu menyusui diberikan dukungan dalam mengASIhi, Bayi yang dilahirkan berhak mendapatkan inisiasi menyusui dini, ASI eksklusif  dan pemberian makan bayi dan anak yang sesuai sehingga pertumbuhan otaknya dapat optimal serta Balita dipantau Pertumbuhan dan Perkembangannya secara Rutin.

 

PENUTUP

Perlunya dukungan dari lintas sektor dalam mendukung upaya pemerintah dalam hal meningkatkan derajat kesehatan kelompok sasaran beresiko yaitu remaja dengan membantau memantau minum Tablet Tambah Darah bagi remaja putri (dinas Pendidikan) dan membantu menurunkan perkawinan usia Dini (dibawah umur) dalam hal ini Kemenag, membantu memfasilitasi kepelikan JKN bagi PUS kurang Mampu (Dinas Sosial), Dukungan Program-Program di Desa terkait Stunting (Dinas PMD), Penerbitan NIK bagi Bayi Baru Lahir agar mudah dipantau pada aplikasi eppgbm (Dinas Capil), Optimalisasi Tim Pendamping Keluarga (Dinas PPKB).